Kamis, 07 Juli 2011

MENJADI KORBAN: SIAPA MAU?”(Sebuah permenungan di tahun khusus untuk para imam)


"Dibuang sayang"

Yang ini kupersembahkan kepada kawula muda untuk dibaca, tapi secara khusus untuk teman-teman romo dan para calon romo (frater) untuk direnungkan bila Anda memutuskan untuk menjadi seorang romo di akhir studimu. Tulisan ini kubuat setahun lalu, tapi rasanya masih dapat untuk dibaca dan direnungkan......

MENJADI KORBAN: SIAPA MA...U?”(Sebuah permenungan di tahun khusus untuk para imam)

Pengantar

“IA DATANG BUKAN UNTUK HIDUP MELAINKAN UNTUK MATI”

Hari jumat, 26 November 2009 saya diundang oleh seorang diakon (teman kuliah semester lalu) di fakultas teology- UST (Universitas Santo Tomas- Manila) untuk mengikuti acara pentahbisannya sebagai imam. Diakon ini berasal dari sebuah keuskupan di Vietnam yang karena berbagai kesulitan dalam proses menjadi imam di negaranya, (Maklum Vietnam masih dikuasai oleh pemerintahan komunis. Sebagai Contoh: ketika seseorang mau melamar menjadi calon imam maka ia harus menulis lamaran resmi kepada pemerintah. Diizinkan atau tidaknya anda, tergantung pada kemauan pemerintah, dan itu bisa terpenuhi dalam 10 tahun ke atas. Seorang teman lain yang sekarang kuliah hukum gereja bersamaku harus menunggu jawaban atas lamarannya sampai 11 tahun. Ia ditahbiskan tahun lalu pada umur 40 tahun) ia dikirim oleh uskupnya untuk melanjutkan study teology di UST dan ditahbiskan kemarin dalam sebuah acara sederhana, yang hanya dihadiri oleh beberapa suster dan imam dari Vietnam, para imam Dominikan dan seminaris. (Bayangkan kalau tahbisan di Manado atau Ambon yang dihadiri oleh ratusan orang dengan berbagai macam makanan istimewa, khususnya “cap tikus dan ikan tikus”).

Selama acara tahbisan yang sederhana itu, pikiranku menerawang jauh kepada situasi yang akan dihadapi oleh teman imam muda ini di negaranya. Benarkah ia akan menikmati imamatnya dalam kegembiraan di tengah berbagai kesulitan hidup yang harus dialami dalam negaranya yang masih komunis itu? Apakah ini pilihan yang tepat untuknya di masa sekarang ini, masa yang menawarkan banyak kemudahan hidup daripada menjadi seorang imam yang corak hidupnya mulai ditinggalkan dan tidak dilirik lagi oleh banyak orang muda? (Beberapa data yang bisa terberi sebagai contoh, yakni tanyakan kepada romo Berty Ohoiwutun dan Wensy Wowor, berapakah calon imam MSC yang ada di biara MSC Manila saat ini, kalau tidak lebih dari 5 orang? Atau tanyakan kepada para romo SVD, CICM atau tarekat-tarekat lainya yang memiliki gedung seminari yang bersusun-bertingkat dilengkapi dengan daya tampung di atas ratusan orang tapi sekarang hanya dihuni oleh 5-10 bahkan mungkin paling banyak 20 orang saja. Sangat beda bila kita melihat data frater2 yang dikeluarkan oleh Pastor Damy Pongoh sebagai rektor Seminari Pineleng yang masih berkisar di atas angka ratusan baik untuk para diosesan maupun religius MSC.).

Meninggalkan beragam pertanyaan yang sedang berkecamuk dalam pikiranku, aku mencoba menikmati indahnya perayaan tahbisan itu. Hari berikutnya, kebetulan tidak ada jadwal perkuliahan sehingga aku mengisinya dengan membaca sebuah buku yang kubeli di toko buku kemarin dengan judul: “The Priest Is Not His Own” (Buku ini ditulis oleh Uskup Fulton J. Sheen yang terkenal dengan kotbah-kotbahnya mempertahankan ajaran katolik di Amerika. Ia memiliki pengalaman spiritual yang mendalam, khususnya dalam penghayatan yang mendalam dan indah antara Yesus Yang memanggil kita menjadi imamNya dan kehidupan para imam itu sendiri). Terinspirasi oleh bagian pertama tulisannya, saya ingin mengembangkan idenya dalam sebuah tulisan pendek sebagai dedikasiku dalam tahunnya kita para imam dengan judul: “MENJADI KORBAN: SIAPA MAU?”Semoga isinya menjadi bahan refleksi bagi kita para imam dan para calon imam dalam tahun yang penuh rahmat dimana umat Katolik di seluruh dunia “berkoban” mendoakan kita para imamnya.

I. Imam Dalam Kitab Suci

a. Perjanjian Lama

Memahami makna, dan seperti apakah imamat itu adanya kita tidak bisa lepas dari keinginan untuk membaca keseluruhan kitab Imamat. Dalam kitab tersebut kita akan dihantar untuk mengerti seperti apakah seorang imam itu dan apa saja tugas yang melekat dalam jabatannya. Isi kitab ini juga akan mencerahkan kita dari sisi “socio-antropogi” bagaimana kebiasaan, adat dan tradisi dunia “Mediterrania” sangat berpengaruh dalam dunia peribadatan umumnya dan aturan-aturan yang ditetapkan dalam relasi dengan “Yahweh” atau Allah sebagai “Yang Tertinggi.” Ini bisa terbaca dalam Imamat 16:21; dan Harun meletakkan tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui...segala kesalahan orang Israel...” Tanpa harus menjelaskan lebih jauh tentang fungsi imam dalam kitab Imamat, kiranya kesimpulan yang bisa kita tarik dari sana bahwa semua hal yang berhubungan dengan Yahweh dan manusia di-perantarai oleh mereka yang diangkat untuk jabatan imamat. Imam adalah penghubung antara Yahweh dan manusia.

Berhadapan dengan manusia yang berdosa di satu pihak dan Allah yang Suci di lain pihak, maka perbuatan dosa dapat merusakan bahkan memutuskan relasi antara kedua-belah pihak. Dalam konteks inilah, si imam datang dengan korban sembelihan (binatang-binatang) yang dalam tradisi Yahudi tidak boleh bercacat sebagai persembahan yang lewat tangan imam, hubungan antara manusia dan Yahweh bisa terjalin kembali(Im.9:2-4). Oleh karena itu, peranan imam dalam tradisi keagaam Yahudi sangatlah vital sehingga mereka dikelompokkan sebagai “kaum yang berkedudukan tinggi” yang harus dihormati. Lewat jabatannya, sang imam bisa menentukan apakah seseorang sudah menjadi tahir atau belum sehingga bisa bergabung kembali dengan masyarakat umum (Im 13:53-56).

b. Perjanjian Baru

Penjelasan tentang imamat dalam Perjanjian haruslah terfokus pada “Pribadi Yesus” sebagai Imam Agung. Dialah imam dalam arti yang sesungguhnya. Ia lahir sebagai Anak Allah dan hidup di antara kita sebagai manusia. Apa yang tertuis dalam bagian awal tulisan ini bisa menjelaskan secara tuntas tentang seperti apakah imamat Yesus itu. “Ia datang bukan untuk hidup melainkan untuk mati.” Ia menunjukkan DiriNya sebagai “perantara dalam arti yang sesungguhnya, sehingga terpesona oleh sepak-terjangnya St.Paulus menulis dengan penuh keyakinan dalam suratnya kepada Timotius bahwa “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus” (1 Tim 2:5).

Imamatnya sungguh dilakukan dengan sempurna karena Ia tidak hanya bertindak sebagai Imam tapi juga sebagai korban. Imamat dan pengorbanan menyatuh dalam dirinya, dan itu tak terpisahkan sampai selamanya.

c. Perbedaan Imamat Perjanjian Lama dan Baru

Bercermin pada penjelasan di atas maka kiranya ada perbedaan yang menyolok antara penghayatan imamat dalam Perjanjian Lama dan Baru. Perbedaan itu bisa terlihat dalam skema di bawah ini:

Perjanjian Lama Perjanjian baru

Imam dan kurban terpisahkan satu dengan yang lain. Yesus datang sebagai “Imam sekaligus korban”, dan ini tidak terpisahkan melainkan menyatuh dalam DiriNya.

Binatang selalu menjadi bahan kurban asalkan tidak ada cacat atau haram, dan ini menjadi sarana pemulihan hubungan antara Yahweh dan manusia Yesus, Dirinya sendiri menjadi korban yang memulihkan hubungan Allah dan manusia


Bagan di atas memperlihatkan bagaimana penghayatan akan imamat itu berubah makna dalam peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Bahkan sejak zaman perjanjian lama, nabi Yesaya sudah meramalkan tentang ciri khas Dia yang akan datang sebagai korban dengan kata-kata profetisnya: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan dirinya ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantain; seperti induk domba yang keluh di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes.53:7). Lukisan sang nabi ini sungguh terpenuhi dalam kisah jalan salib yang biasanya kita saksikan dan rayakan secara meriah nan agung dalam Jumat Agung.

Dengan demikian ketika Ia datang ke dunia, Yesus memaklumkan kepada para pendengarNya bahwa yang dikehendaki oleh Allah bukan korban sembelihan lagi melainkan hati yang remuk redam dalam sebuah tindakan pertobatan. Penulis surat Ibrani mencatat ini secara indah dalam kitabnya; “...Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki – tetapi Engkau telah menyediakan bagiku – Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa, Engkau tidak berkenan.” (Ibr 10:5-6).

II. Imam dan Panggilan untuk Menjadi Imam dalam Dunia Sekarang

1. Kehidupan Para Imam sekarang.

Dalam liburan Natal kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi dua komunitas tarekat religius, antara lain: Scalabrinian (Misionaris St. Carolus Boromeus (sebuah tarekat yang mengkhususkan pelayanan pada para migran di seluruh dunia) dan Tarekat Sisters of the Angels. Apa yang kutemukan di sana bahwa kebanyakan para calonnya berasal dari Indonesia. Dalam tarekat Scalabrinian, di mana saya berkesempatan untuk memberikan rekoleksi dua hari kepada para novis dan postulan ada fenomena yang sangat mencengangkan bahwa dari angkatan postulan yang berjumlah 15 orang, hanya terdapat 3 Filipino, 2 Vietnames dan 10 sisanya berasal dari Indonesia (Flores). Demikian pun para novisnya yang berjumlah 12 frater, 4 orang berasal dari Vietnam dan 8 sisanya dari Flores (Indonesia) sedangkan Filipina tidak terwakilkan oleh seorangpun. Apa yang kutemukan di sana juga berlaku untuk “Sisters of the Angels” di mana dari 2 angkatan yang berbeda, yang berkisar sekitar 16 orang, cuma 1 orang dari Filipina sedangkan 15 lainnya berasal dari Flores dan Ambon.Dari pemaparan data di atas sangat terlihat jelas bahwa tarekat-tarekat di Filipina, yang 80% masyarakatnya beragama Katolik mulai mengalami kekurangan panggilan untuk kaum muda. Apa yang terjadi di Eropa di mana banyak tarekat religius mulai menutup baira-biara atau mengalih-fungsikan, bahkan menjualnya gedung-gedungnya, sekarang mulai merambah ke negara-negara Asia, dan Filipina sangat jelas dalam kasus ini. Saya sangat setuju dengan analisa dari bapa profesor kita J. van Paessan bahwa orang-orang muda mulai kehilagan mereka yang dapat menjadi panutan atau teladan dalam hidup mereka. Contoh sangat jelas bahwa banyak di antara kita para imam mulai kehilangan kecintaan terhadap perayaan Ekaristi. Alasan yang terkuak bahwa kita menganggap perayaan ekaristi sebagai sesuatu yang fakultatif, dan apa yang fakultatif sering menjadi alasan untuk tidak melaksanakannya. Demikianlah saya diingatkan oleh seorang suster dari Vietnam ketika tahun lalu kami bersama-sama mengikuti kursus “On going formation” di ARFI (Antipolo – Filipina).

Tentunya, kesimpulan bahwa para imam mulai kehilangan rasa cinta terhadap Ekaristi tidak berasal dari sebuah cerita belaka tapi dari sebuah pengalaman riil ketika saya masih bertugas di Ambon maupun di Manila sekarang ini. Apa yang disinyilir oleh pastor J.van Paessan tentang kecenderungan para imam untuk menghabiskan banyak waktu di depan televisi, dan kini godaan paling besar adalah komunikasi lewat “chating facebook”, bagiku, bisa ditangani bila setiap imam masih memiliki rasa cinta terhadap Ekaristi sebagai puncak dan pusat kehidupan imamatnya. Kita bisa menyederhanakan saja kasusnya seperti ini; seadainya anda tidak bisa bangun pagi untuk misa, kenapa musti gunakan waktu terlalu panjang pada malam hari untuk nonton atau chating? Kendatipun itu anda lakukan maka anda harus tahu bahwa paginya anda bisa bangun untuk misa. Kadang Tuhan dikorbankan hanya karena kita terlena dengan kelemahan bahkan keenakan kita semata. Karena itu, tidak penting anda pergi tidur jam berapa, tapi hendaklah tetap konsisten untuk bangun pada pagi hari demi mengikuti atau merayakan perayaan Ekaristi.

2. Apa yang dicari orang Muda?

Uskup Fulton Sheen mensinyalir bahwa kemerosotan minat orang-orang muda untuk menjadi imam dalam dunia sekarang ini bukan terletak pada ketertarikan mereka untuk hidup bebas, melainkan tidak adanya tantangan lagi dalam kehidupan membiara/kehidupan para imam sekarang. Atas berbagai alasan, bahkan alasan keadilan, kebenaran dan kemanusiaan banyak imam terjun dalam kehidupan praktis masrayakat. Tentunya, ini menjadi sesuatu yang sangat luar biasa karena para imam mau terlibat langsung dalam kehidupan riil umatnya. Apa yang hilang di sana, yakni ketika kesibukan-kesibukan seperti itu merongrong bahkan menghilangkan identitas kita sebagai seorang imam. Seandainya seorang frater pastoral melihat dan mengalami bahwa imam pembimbingnya sibuk dengan urusan kemanusiaan (alasan yang terberi) sehingga kehidupan doa, meditasi bahkan kewajiban untuk merayakan Ekaristi pagi telah hilang dalam diri seorang imam, lalu pertanyaan bagi seorang frater pastoral, yakni: Apa bedanya imam pembimbingku dengan seorang awam? Apa lagi yang menjadi tantangan bagi jiwa mudanya?

Uskup Fulton mengingatkan kita semua bahwa para jiwa muda selalu mencari tantangan, dan itulah ciri khas orang-orang muda. Mereka tidak mencari kebebasan seperti yang kita cenderung labelkan pada jiwa muda mereka. Alasan mereka keluar dari jalan menuju imamat bukan semata terletak pada ketertarikan terhadap dunia luar yang lebih bebas dan menjanjikan banyak kemudadan, melainkan karena tidak adanya suatu daya tarik yang menarik sekaligus menantang petualangan jiwa mudanya untuk tetap berada dalam jalannya menuju penerimaan sakramen imamat suci. Mereka pergi bukan karena ada yang lebih menarik dari dunia luar, melainkan apa yang mereka cari dalam gejolak jiwa mudanya tidak ditemukan dalam kehidupan biara, dalam diri kita para imam dewasa ini. Mereka pergi bukan karena janji kenikmatan yang lebih besar dari dunia luar, melainkan kenikmatan hidup sebagai seorang imam tidak nampak dalam kehidupan para imam dalam dunia dewasa ini.

Ingatanku kembali pada apa yang selalu ditekankan oleh Uskupku di Ambon bahwa ketika kita para imam kehilangan kedisplinan hidup, ketika kita kehilangan rasa cinta terhadap doa, meditasi dan Ekaristi maka apa yang menjadi daya tarik kita sebagai para imam pun akan sirna, dan inilah yang menjadi alasan bagi orang muda untuk memilih jalan lain dalam kehidupan mereka. Beliau selalu mencontohkan apa yang diperbuatnya; Ia adalah seorang uskup yang penuh disiplin, tegas dan bahkan keras dalam pembinaan dan pendampingan terhadap para imam dan calon imamnya, tapi anehnya bahwa selama masa kepemimpinannya banyak orang muda memutuskan untuk menjadi imam dan calon imam Keuskupan Amboina. Kalau seandainya alasan bahwa darah muda mencari kebebasan, mencari kenikmatan dan kemudahan hidup, pertanyaannya: Kenapa mereka tidak memilih jalan lain? Malah dari tahun ke tahun jumlah calon imam dan tahbisan imam di Keuskupan Amboina semakin bertambah dalam jumlah?

III. Kesimpulan

Bercemin dan belajar dari kenyataan di atas, maka kiranya tahun para imam ini kita gunakan untuk menjadi kesempatan untuk berefleksi terhadap hakekat keimaman kita. Apa yang disinyalir sebagai alasan oleh pastor J.van Paesaan hendaklah tidak menjadi sebuah tekanan melainkan sebuah dorongan untuk menyadari akan makna sakramen Imamat yang dipantaskan oleh Dia kepada kita yang sebenarnya tidak pantas untuk menerimanya. Kurangnya minat orang muda (frater yang telah menjalani tahun pastoral) untuk meneruskan jalan panggilannya, memang menjadi sebuah keputusan pribadi sang frater, tetapi keputusan itu pasti berdasar pada sebuah kenyataan atau pengalaman hidup yang dia alami selama menjalankan tahun pastoral bersama pastor pembimbing di tengah umat. Saya tetap percaya bahwa kekuatan perayaan Ekaristi, bisa mempengaruhi banyak hal dalam hidup kita sebagai imam. Karena bagiku, kehilangan rasa cinta terhadap doa, meditasi dan terlebih perayaan Ekaristi membuat hidup kita sebagai seorang imam tidak menampakan keindahan dan daya tarik terhadap para jiwa muda (frater pastoral) untuk meneruskan panggilannya menuju ke jenjang imamat.

Apa yang Sang Bunda katakan kepada Sta. Catalina dalam penampakkan kiranya memberikan inspirasi sekaligus menyadarkan kita akan makna sakramen Imamat yang disematkan kepada kita, bukan karena kepantasan kita untuk menerimanya melainkan hanya karena kasih karunia Allah semata. Bunda berkata:

“Lihatlah, walaupun aku, ibuNya yang tercinta, yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan Dia, tapi Ia tidak pernah memberikan hak istimewa kepadaku untuk mengubah roti dan anggur yang fana di atas altar itu menjadi Tubuh dan DarahNya. Hanya kepada mereka, yang dipanggil menjadi imam-Nyalah hak itu diberikan. Dalam kelemahan dan kerapuhan mereka sebagai manusia, roti dan anggur yang fana itu bisa berubah menjadi Tubuh dan Darah Putraku. Dapatkah anda membayangkan betapa dalamnya cintaNya kepada para imam-Nya?”

Oleh karena itu, di akhir tulisan ini saya hendak memohon maaf bila apa yang kurasakan, kualami dan kurangkaikan dalam tulisan ini membuat para pembaca, terutama rekan-rekan para imam meradang jiwa dan pikiran. Aku tidak memposisikan diri sebagai yang terbaik di antara para imam. Aku hanya mempunyai sebuah kesempatan untuk menuliskan kata hatiku sebagai sebuah sharing demi mengetok pintuk hati kita untuk menciptakan daya tarik dari apa yang telah kita terima sebagai anugrah yang luar biasa dari Tuhan, yakni Sakramen Imamat. Aku hanya berharap bahwa para jiwa muda (para frater pastoral) selama masa pembinaannya dapat menemukan sosok yang mampu menjadi panutan, sekaligus mampu menciptkan daya tarik dan semakin menenguhkan niatnya untuk maju terus menuju jenjang imamat kudus. Tentunya, kita tetap memberi ruang bagi “Rok Kudus” untuk melaksanakan apa yang pernah disabdakan oleh Yesus: “Banyak yang dipanggil tapi sedikit yang terpilih.” Meskipun demikian, kita sebagai imam pun sangat berperan dalam membuat yang telah terpanggil itu menjadi yang terpilih untuk bekerja di kebun anggurNya.

Penutup


Aku hanya berharap semoga lewat tulisan berserakan ini keraguan saudari Ina sebagai awam tidak menjadi sebuah luka yang terus menerus tercipta dari saat ke saat karena kenyataan bahwa banyak frater muda akhirnya memutuskan untuk memilih jalan lain, tetapi marilah kita menyembuhkan luka itu dengan cara membantu para jiwa muda untuk tetap berkanjang dalam jalan panggilan mereka. Jiwa muda mereka masih percaya bahwa “ketika mereka mau memberi diri untuk Tuhan, ketika mereka mau meniggalkan bapa mama, saudara-saudari mereka, bahkan harta mereka demi mengikuti Tuhan, mereka pun tetap yakin untuk mendapatkan apa yang pernah dijanjikan oleh Tuhan Yesus bahwa mereka akan mendapatkan kelimpahan dalam hidup mereka. Ini hanya menjadi sebuah pengalaman nyata dan dialami oleh para jiwa muda ketika kita para imam mampu menunjukkannya dalam persahabatan dengan mereka selama mereka menjalankan tahun orientasi pastoral di paroki atau lembaga di mana mereka dipercayakan.

Sama seperti Yesus yang datang bukan untuk hidup melainkan untuk mati, maka jiwa muda pun akan berjuang untuk mengalaminya, asalkan kita para imam mampu menciptakan peluang dan daya tarik lewat kesaksian hidup kita setiap hari. Kita belum, bahkan tidak pernah terlambat untuk memperbaikinya. Tetap terbuka kesempatan untuk sebuah perubahan ketika kita mau memulai saat ini, di mana pun kita berada sebagai seorang imam.

Salam seorang sahabat untuk para sahabat,

Romo Inno
(Manila)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar